Archive for May, 2006

Mikul Duwur Mendem Jero

Falsafah Jawa yang satu ini ancene keren, artine adalah sebagai berikut
1. jilat atasan injak bawahan
2. seorang atasan tidak pernah salah dan tidak bisa disalahkan
3. seorang bawahan harus mau dikambinghitamkan atau paling tidak musti siap-siap kalau suatu saat disalahkan.
4. kalau berprestasi maka atasan yang menerima rewardnya
5. kalau kena punishment maka bawahan harus siap-siap untuk menanggungnya
6. para bawahan harus siap untuk rekoso sedangkan atasan harus urip mulyo
7. atasan dimana-mana harus dipikul dan dijunjung tinggi
8. untunge atasane apikan, jadi kalo korupsi ya dibagi-bagi… lo eh…

Comments (1) »

naik kereta api tut tut tuuut

kmarin abis liat di TV bahwa pengecekan tiket kereta api smakin gencar, bahkan ada yg gak mau kluar dari kamar mandi, dpaksa-paksa gak mau juga, akhire dikuci dan disegel dari luar, bayangin gak beli tiket trus naiknya kreta eksekutif.

berdasarkan pngalaman sih trutama kalo hari minggu dari smarang sampe jakarta emang gak dperiksa tiketnya, trus dari jakarta ke surabaya jg gak diperiksa tiketnya soale penumpangnya dah penuh. cuman setelah aku denger berita di TV kmarin itu kok kayaknya emang bener kmarin abis dari surabaya jumat sore tiket dicek 3 sampe 4 kali.

kalo masalah bayar diatas sih emang dah biasa, cuman setelah pengecekan tiket diperketat kayaknya sanksinya skarang diturunkan distasiun terdekat, cuman bukan orang indonesia namanya kalo gak bisa main akal-akalan. cara yang aku liat kmarin tuh sekumpulan orang dengan rambut tipis plus atribut doreng ya ngerti sendirikan maksudnya mreka tu siapa. mreka beli tiket dari surabaya ke pekalongan shingga kalo pas dipriksa tiketnya mreka bisa nunjukin soale tiket dipriksa hanya sampe sblum stasiun di pekalongan, pas di semarang malah sampe 2 kali pengecekan tiketnya. cuman kan gak masalah wong mreka punya tiket. jadi artinya tu mreka melakukan perjalanan surabaya-jakarta dengan beli tiket surabaya-pekalongan. keren euy, warga negera kita selalu punya strategi dan langkah lebih maju untuk menyiasati aturan.

No comment »

alat ukur kehidupan

ketika kita kecil dulu saat masih bayi, orang-orang akan mengukur kondisi si bayi dalam bentuk berat badan, tinngi badan dimana bila berukuran sekian sekian maka kemudian berdasarkan hasil pengukuran tersebut dapat disimpulkan bahwa kita termasuk bayi yang kurang normal, normal, ataupun berlebih. selanjutnya proses pengukuran pun berlanjut, setelah si bayi berukuran sekian tahun kemudian dikatakan bahwa bayi yang normal tu harus bisa merangkak pada umur sekian, sudah bisa berjalan pada umur sekian, kmudian kalau pada umur sekian masih suka ngiler artinya kurang normal dan seterusnya. artinya setiap saat berapapun usia kita akan selalu akan ada alat atau parameter ukurnya yang selalu berubah sesuai kondisi dan perkembangan diri kita.

nah sekarang permasalahannya adalah diusia kita yang sekarang apa yang dijadikan alat ukur oleh masyarakat terhadap kita. ada 2 parameter utama yang akan membuat kita akan dipandang berbeda oleh orang yakni ilmu dan uang. setiap orang dan bahkan kita sendiri tentu akan melihat hal yang berbeda terhadap 2 orang anak kecil dimana yang satu adalah pengamen jalanan sedangkan yang satunya adalah seorang anak kecil juga yang memakai baju seragam merah putih, walaupun si anak SD ini sbenarnya sudah berulang kali gak naik kelas mungkin. kita juga akan melihat dari sudut pandang yang berbeda terhadap seorang lulusan D3 dan S1 walau belum tentu yang S1 lebih pinter, terutama kalo dah didunia kerja maka perbedaan tsb akan begitu terasa dalam hal karir kerja. kmudian kita juga akan melihat dengan sudut pandang berbeda terhadap orang yang memiliki skill dan yang tidak. kita juga akan melihat dengan sudut pandang berbeda terhadap seorang pengangguran dan seorang karyawan. misalkan suatu saat ada 2 orang cowok main ke rumah si cewek, cowok A naik mobil sedangkan cowok B jalan kaki, walaupun mungkin si B lebih soleh dan si cewek juga lebih seneng dengan si B, namun bisa jadi si calon mertua atau orang tuanya si cewek tsb akan memiliki sudut pandang yang berbeda dengan lebih memilih cowok A dengan alasan kesejahteraan untuk anaknya.

Yup, ilmu dan uang saat ini adalah 2 harga mati yang gak bisa ditawar-tawar. Memang bener uang tidak bisa membeli segalanya, memang benar bahwa materi bukanlah segala-galanya, akan tetapi perlu dipahami bahwasanya materi adalah suatu ukuran.

selanjutnya berdasarkan 2 alat ukur tersebutlah bisa diketahui sejauh manakah kualitas hidup yang dimiliki saat ini. namun demikian proses ukur tidaklah berhenti hanya dengan mengetahui alat ukurnya saja, alat ukur tersebut harus digunakan untuk bisa melakukan pengukuran. dalam hal ini pengukuran dilakukan dengan melihat apa yang telah diamalkan menggunakan ilmu dan uang tersebut. jangan ngaku hidupnya berkualitas kalau amal uangnya masih berupa uang recehan di kotak amal mesjid, karena semakin besar nilai uang yang diamalkan maka akan semakin menunjukkan kualitas hidup orang tersebut. terkadang meski punya banyak uang akan tetapi orang sekelilingnya menilai bahwa dia itu pelit, nah gmana mo dikatakan hidup yang berkualitas kalo orang lain prihatin melihat hidup kita yang merasa nyaman dengan sikap pelitnya.

kemudian alat ukur ilmu lebih dahsyat lagi malah, karena gak hanya harus diamalkan saja melainkan juga musti diajarkan. jangan ngaku hidupnya berkualitas deh kalo ilmunya masih hanya berakhir di kantor/perusahaan saja. sementara orang lain sudah selangkah lebih maju dengan mengisi seminar, workshop, training, menulis buku, menulis artikel dan seterusnya karena kembali lagi kualitas hidup berdasarkan alat ukur ilmu berujung pada 2 hal yakni diamalkan dan diajarkan.

so…
jangan ngaku hidupnya dah berkualitas deh kalo masih suka masukin uang receh ke kotak amal
jangan ngaku hidupnya dah berkualitas deh kalo ilmunya hanya habis di tempat kerja

beh….. ternyata berat kalo pengin hidupnya berkualitas, perlu berapa tahun lagi ya aku bisa kayak gitu hmmmmm ya  yang penting harus tetep berusaha, demi sebuah masa depan dan kehidupan yang lebih baik.

Comments (1) »

berhenti berpura-pura

mungkin ini saat yang tepat untuk berhenti berpura-pura, berpura-pura pinter, berpura-pura sok sangar, berpura-pura hebat, berpura-pura baik dan seterusnya. entah kenapa saat ini aku gak bisa menolong diriku sendiri. kebodohan demi kebodohan secara perlahan menguasai diriku dan lebih parahnya lagi aku gak ngerti aku musti ngapain. ya…semoga hal ini cepat berlalu…..
set mode=gak smangat bo’

Comments (1) »