alat ukur kehidupan

ketika kita kecil dulu saat masih bayi, orang-orang akan mengukur kondisi si bayi dalam bentuk berat badan, tinngi badan dimana bila berukuran sekian sekian maka kemudian berdasarkan hasil pengukuran tersebut dapat disimpulkan bahwa kita termasuk bayi yang kurang normal, normal, ataupun berlebih. selanjutnya proses pengukuran pun berlanjut, setelah si bayi berukuran sekian tahun kemudian dikatakan bahwa bayi yang normal tu harus bisa merangkak pada umur sekian, sudah bisa berjalan pada umur sekian, kmudian kalau pada umur sekian masih suka ngiler artinya kurang normal dan seterusnya. artinya setiap saat berapapun usia kita akan selalu akan ada alat atau parameter ukurnya yang selalu berubah sesuai kondisi dan perkembangan diri kita.

nah sekarang permasalahannya adalah diusia kita yang sekarang apa yang dijadikan alat ukur oleh masyarakat terhadap kita. ada 2 parameter utama yang akan membuat kita akan dipandang berbeda oleh orang yakni ilmu dan uang. setiap orang dan bahkan kita sendiri tentu akan melihat hal yang berbeda terhadap 2 orang anak kecil dimana yang satu adalah pengamen jalanan sedangkan yang satunya adalah seorang anak kecil juga yang memakai baju seragam merah putih, walaupun si anak SD ini sbenarnya sudah berulang kali gak naik kelas mungkin. kita juga akan melihat dari sudut pandang yang berbeda terhadap seorang lulusan D3 dan S1 walau belum tentu yang S1 lebih pinter, terutama kalo dah didunia kerja maka perbedaan tsb akan begitu terasa dalam hal karir kerja. kmudian kita juga akan melihat dengan sudut pandang berbeda terhadap orang yang memiliki skill dan yang tidak. kita juga akan melihat dengan sudut pandang berbeda terhadap seorang pengangguran dan seorang karyawan. misalkan suatu saat ada 2 orang cowok main ke rumah si cewek, cowok A naik mobil sedangkan cowok B jalan kaki, walaupun mungkin si B lebih soleh dan si cewek juga lebih seneng dengan si B, namun bisa jadi si calon mertua atau orang tuanya si cewek tsb akan memiliki sudut pandang yang berbeda dengan lebih memilih cowok A dengan alasan kesejahteraan untuk anaknya.

Yup, ilmu dan uang saat ini adalah 2 harga mati yang gak bisa ditawar-tawar. Memang bener uang tidak bisa membeli segalanya, memang benar bahwa materi bukanlah segala-galanya, akan tetapi perlu dipahami bahwasanya materi adalah suatu ukuran.

selanjutnya berdasarkan 2 alat ukur tersebutlah bisa diketahui sejauh manakah kualitas hidup yang dimiliki saat ini. namun demikian proses ukur tidaklah berhenti hanya dengan mengetahui alat ukurnya saja, alat ukur tersebut harus digunakan untuk bisa melakukan pengukuran. dalam hal ini pengukuran dilakukan dengan melihat apa yang telah diamalkan menggunakan ilmu dan uang tersebut. jangan ngaku hidupnya berkualitas kalau amal uangnya masih berupa uang recehan di kotak amal mesjid, karena semakin besar nilai uang yang diamalkan maka akan semakin menunjukkan kualitas hidup orang tersebut. terkadang meski punya banyak uang akan tetapi orang sekelilingnya menilai bahwa dia itu pelit, nah gmana mo dikatakan hidup yang berkualitas kalo orang lain prihatin melihat hidup kita yang merasa nyaman dengan sikap pelitnya.

kemudian alat ukur ilmu lebih dahsyat lagi malah, karena gak hanya harus diamalkan saja melainkan juga musti diajarkan. jangan ngaku hidupnya berkualitas deh kalo ilmunya masih hanya berakhir di kantor/perusahaan saja. sementara orang lain sudah selangkah lebih maju dengan mengisi seminar, workshop, training, menulis buku, menulis artikel dan seterusnya karena kembali lagi kualitas hidup berdasarkan alat ukur ilmu berujung pada 2 hal yakni diamalkan dan diajarkan.

so…
jangan ngaku hidupnya dah berkualitas deh kalo masih suka masukin uang receh ke kotak amal
jangan ngaku hidupnya dah berkualitas deh kalo ilmunya hanya habis di tempat kerja

beh….. ternyata berat kalo pengin hidupnya berkualitas, perlu berapa tahun lagi ya aku bisa kayak gitu hmmmmm ya  yang penting harus tetep berusaha, demi sebuah masa depan dan kehidupan yang lebih baik.

1 Response so far »

  1. 1

    - La Rein - said,

    May 16, 2006 @ 5:10 am

    pengen sich…tp kenapa memulai itu susah yach??

Comment RSS

Say your words