Buku “Hidup Tanpa Ijazah”

Bukuhiduptanpaijazah

web : http://ajip-rosidi.com

Ada seorang putra Indonesia yang tak punya gelar akademik sama sekali, bahkan ijazah SMA pun tak punya karena ia tidak menamatkan SMA-nya, tetapi ia diangkat sebagai gurubesar di tiga perguruan tinggi di Jepang.

Bagaimana bisa ?

52 th yang lalu saat Ajip mau menempuh ujian nasional, ramai terjadi kebocoran
soal-soal ujian, orang tak segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak
untuk membeli soal ujian, guru-guru pun bisa disogok. Di koran-koran
timbul polemik tentang manfaat ujian. Dipertanyakan tentang keabsahan
ujian untuk menilai prestasi murid yang sebenarnya.

Ajip muda (16
tahun) berkesimpulan : orang tidak segan melakukan perbuatan hina,
membeli soal ujian atau menyogok guru, demi lulus ujian. Untuk apa
lulus ujian ? Untuk dapat ijazah. Untuk apa ijazah ? Untuk melamar
kerja. Untuk apa kerja ? Untuk dapat hidup. Kalau begitu, hidup berarti
bergantung kepada secarik kertas bernama ijazah ! Ajip terkejut sendiri
dengan kesimpulannya. Ia saat itu telah empat tahun berkarya (Ajip
mulai mengirimkan tulisan2 cerita dan puisi dan dimuat di koran2 dan
majalah2 sejak tahun 1952 saat umurnya masih 14 tahun) dan telah merasa
bisa hidup cukup mandiri dengan honorariumnya. Ajip bertanya, apakah
seorang pengarang membutuhkan ijazah untuk bisa hidup ? Tidak.

Ajip
memutuskan bahwa hidupnya tidak akan digantungkan kepada selembar
ijazah. Prestasinya tidak akan bergantung kepada selembar ijazah.
Menurutnya tak ada sekolah atau universitas yang dapat menuntunnya
menjadi seorang pengarang yang baik, apalagi ia punya pengalaman bahwa
guru2 bahasa Indonesianya semasa di SMP dan SMA harus lebih banyak
membaca daripada dirinya.

"Aku akan dapat meningkatkan
pengetahuan dan kemampuanku dalam bidang sastra dan penulisan dengan
banyak membaca. Dan membaca tidak usah di sekolah. Tidak usah juga
bersekolah tinggi karena aku sudah mengenal huruf-huruf. Buku-buku
dapat dibeli, atau dipinjam dari perpustakaan. Dalam membaca aku dapat
melampaui kebanyakan orang yang punya ijazah lebar. Dengan kian luasnya
bacaanku, maka tulisanku akan lebih berbobot. Kalau tulisanku berbobot,
niscaya orang-orang akan menghargaiku sebagai pengarang. Akhirnya yang
penting dalam hidup adalah prestasi yang diakui oleh masyarakat. Berapa
banyak orang yang mempunyai ijazah tinggi dan menduduki jabatan penting
dalam masyarakat tetapi tidak pernah memperlihatkan prestasi pribadi ?
Mereka akan lenyap dari ingatan masyarakat kalau mereka sudah pensiun
atau setelah meninggal. Aku ingin tetap dikenang orang walaupun aku
sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Dan hal itu hanya dapat dicapai
dengan berkerja keras, dengan mencipta karya yang bagus. Orang akan
tetap mengingat namaku kalau karya-karya yang kutulis bermutu" begitu
tulis Ajip Rosidi di dalam buku ini halaman 167-168.

Dan,
keluarlah Ajip dari sekolah alias drop out, dia menulis surat kepada
gurunya di atas kartu pos, "saya tidak jadi ikut ujian nasional karena
saya akan membuktikan bahwa saya dapat hidup tanpa ijazah" Luar biasa
keputusan anak remaja ini, keputusan sendiri, tanpa memberi tahu orang
tuanya di Jatiwangi.

Dan puluhan tahun berikutnya adalah puluhan tahun pembuktian bahwa Ajip
bisa hidup tanpa ijazah. Sebuah bakat yang ditekuni secara luar biasa
akan berhasil luar biasa juga. Setahun sebelum ia keluar dari SMA, buku
pertamanya telah terbit ketika umurnya masih 17 tahun, berjudul
"Tahun-Tahun Kematian" (kumpulan cerpen). Itu adalah buku pertama yang
mengawali sebanyak lebih dari 110 judul buku berikutnya selama puluhan
tahun kemudian. Ajip menulis buku-buku baik kumpulan cerpen, kumpulan
puisi, roman, drama, penulisan kembali cerita rakyat, cerita wayang,
bacaan anak-anak, kumpulan humor, esai dan kritik, polemik, memoar,
bunga rampai, buku terjemahan, biografi (ada 10 halaman daftar lengkap
karya Ajip di buku otobiografi ini). Ajip menulis baik dalam bahasa
Sunda maupun bahasa Indonesia. Banyak karyanya diterjemahkan oleh
penerbit internasional ke dalam bahasa-bahasa asing Belanda, Cina,
Hindi, Inggris, Jepang, Jerman, Kroasia, Prancis, Rusia, Thai, dan
lain-lain.

Sepak terjang Ajip tak hanya dalam dunia penulisan
sastra dan sekitarnya. Ia adalah redaktur dan Pemimpin majalah Suluh
Pelajar (1953-1955) saat Ajip masih duduk di SMP dan SMA. Juga ia
menjadi pemimpin redaksi Majalah Sunda (1965-1967), Budaya Jaya
(1968-1979), dan Cupumanik (sejak 2005).

Ajip juga adalah
redaktur, pendiri dan pemimpin usaha2 penerbitan. Ia adalah seorang
redaktur Balai Pustaka (1955-1956). Tahun 1962 mendirikan Penerbit
Kiwari, tahun 1964-1969 mendirikan dan memimpin Penerbit Tjupumanik di
Jatiwangi. Tahun 1971 mendirikan Penerbit Pustaka Jaya dan menjadi
pemimpinnya. Tahun 1981 mendirikan Penerbit Girimukti Pusaka, Tahun
2000 ia mendirikan dan memimpin Penerbit Kiblat Buku Utama di Bandung.
Usaha penerbitannya ada yang terus berjalan sampai Sekarang (Pustaka
Jaya), ada juga yang telah lama berhenti.

Ajip juga sangat giat
dalam berorganisasi, misalnya tahun 1954 (umur 16 tahun) menjadi
anggota Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional. Tahun 1956 menjadi
anggota Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda. Tahun 1972-1981 menjadi ketua
Dewan Kesenian Jakarta (dewan ini juga dibentuk pada tahun 1968 atas
prakarsa Ajip. Tahun 1973-1979 sebagai ketua Ikatan Penerbit Indonesia
(IKAPI). Tahun 1993 Ajip mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancage, sebuah
yayasan yang mengapresiasi karya-karya sastra daerah dalam bahasa
Sunda, Jawa, dan Bali.

Ajip juga menduduki banyak anggota
badan-badan kehormatan. Tahun 1960-1962 dia adalah anggota Badan
Pertimbangan Ilmu Pengetahuan bidang Sastra dan Sejarah. Tahun
1978-1980 sebagai staf ahli menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tahun
1979-1982 menjadi anggota Dewan Fim Nasional, tahun 1979-1980 menjadi
anggota Dewan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional. Tahun 2002
diangkat menjadi anggota Akademi Jakarta.

Meskipun Ajip tak
menamatkan SMA-nya, tak pernah kuliah, bukan sarjana, tentu bukan
master, apalagi doktor, tahun 1967 ia diangkat sebagai dosen luar biasa
pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran di Bandung. Ajip pun
sering diundang memberikan kuliah umum di berbagai perguruan tinggi di
seluruh Indonesia. Dan, tahun 1981, Ajip diangkat sebagai Visiting
Professor pada Osaka Gaikokugo Daigaku di Osaka, Jepang. Ajip mengajar
di Jepang sampai tahun 2003. Ajip pun diangkat sebagai Gurubesar Luar
Biasa pada tahun 1983-1994 di Tenri Daigaku di Tenri, Nara, Jepang.
Tahun 1983-1996 menjadi Gurubesar Luar Biasa pada Kyoto Sangyo Daigaku
di Kyoto. Pensiun sebagai guru besar, Ajip pulang ke Indonesia pada
tahun 2003. Sekalipun Ajip berada di Jepang selama 22 tahun, dia tetap
menulis buku2nya dalam bahasa Sunda dan Indonesia, tetap berhubungan
dengan para penggiat sastra di Tanah Air, dan tetap memantau serta
mengelola organisasi2 yang pernah didirikannya dari jauh.

Satu hal yang sangat penting yang merupakan pesan Ajip melalui buku ini
adalah : meskipun pendidikan sangat penting, orang bisa juga berhasil
meskipun tidak atau kurang sekolahnya. Ajip telah membuktikan kepada
kita semua bahwa ia bisa hidup dan berhasil sampai punya reputasi
internasional bahkan sampai menjadi gurubesar di tiga perguruan tinggi
di luar negeri meskipun tak punya gelar akademik apa pun, bahkan ijazah
SMA pun tak ia miliki, Ajip benar2 : hidup tanpa ijazah.

Yang keren kl menurutku tuh ya, saat mengambil keputusan untuk tidak
mau ujian nasional SMA nya, starting point radikal yang dijalani dengan mantab dan penuh keyakinan …..

Say your words