Sebuah tulisan untuk diriku
“Mengapa cepat sekali hatiku berubah…” sejenak iman kuat
membara di hati. Tetapi lama kelamaan pudar dan semakin redup. Dulu bersemangat
mengkaji dan mengamalkan Islam kini terus seurut oleh kesibukan dunia yang
seakan tanpa penghujung.
Semakin diri tenggelam ke dalam lautan duniawi, nafas iman
kian lemah dan akan mati lemas akhirnya. Kelemahan iman menyebabkan diri
tersungkur di lembah dosa, ibadah yang tidak berkualitas, perlahan menjadikan
diri jauh dari Allah, terseleweng dari jalan-Nya, terbenam dalam permainan
nafsu syahwat, hingga kesulitan untuk kembali. Hati mengeras, nurani pudar,
jiwa gersang, aqidah goyah dan iman meranggas.
Sungguh tiada kemalangan yang lebih dahsyat bila semacam ini
berterusan hingga di pintu kubur. Wal’iyadzubillah.
Rusaknya amal bermula dari hati yang tidak dapat khusyuk.
Penyakit akan bertambah apabila terjadi kemalasan ketika beribadat. Berjumpa
dan berhubungan dengan Allah tanpa wujud perasaan seolah-olah kosong dan hampa.
Sekedar diri terlepas kewajiban tanpa merasai kemanisan ibadat.
Rekreasi bisa meredakan ketegangan, menuruti selera dan
shopping bisa mengobati kebosanan , memakai pakaian yang indah dan mahal tidak
dilarang, membeli perhiasan dan apa yang menyukakan hati bisa melahirkan
kesyukuran kepada nikmat Allah Taala
Akan tetapi, perkara begini kadang-kadang membuat lalai.
Berlebihan dalam memanjakan diri, melemahkan semangat perjuangan hidup.
Mengaburkan mata dan hati dan akhirnya larut dalam kesibukan dunia hingga
melupakan akhirat.
Tidak menghadiri majlis ilmu atau pengajian bisa menyebabkan
lupa dan hilang pedoman hidup, tidak jelas arah dan tujuan. Siapa diri ini,
berasal dari manakah dia, mau kemana dan apa yang mau dicapainya? Manusia yang
lemah iman mudah kehilangan tujuan hidupnya. Untuk mendapatkan kembali pedoman
hidupnya supaya tidak bersalah jalan, memerlukan hidayah yaitu ilmu Allah.
Hidayah perlu dikejar dengan mujahada. Perlu dijaga dan
dirawat agar tak terlepas dari genggaman. Setiap mukmin memiliki hati yang mamu
berbisik mengenai keadaan imannya, siapakah yang paling mengetahui diri kita
melainkan Allah taala dan diri kita sendiri.
Mengingat Allah mengantarkan pada ketenangan jiwa. Tenang
adalah takdir-Nya, dikala susah senang, dikala sedih bahagia, dikala sempit
lapang, dikala jatuh bangkit… yang ada hanyalah redho dengan jalan hidup yang
ditetapkan Nya. Hidup senantiasa optimis karena yakin segalanya telah termaktub
di Lauh Mahfuz. Dan ketetapan Allah pada hambanya adalah yang terbaik.


